Oleh Miko Kamal
Advokat dan Wakil Rektor III Universitas Islam Sumatera Barat
Cerita ini saya dapat dari seorang teman beberapa minggu yang lalu. Cerita sarat makna. Begini ceritanya.
Syahdan pada suatu hari di tengah hutan Sumatera yang lebat, seekor raja hutan (harimau) menggelar pesta perkawinan. Nyaris semua penghuni hutan datang menghadiri undangan. Ada yang datang berpasangan, ada pula yang tidak. Mulai dari kera, monyet, ular, singa, kala jengking, kucing, burung, gajah, babi, badak, dan penghuni hutan lainnya tumplek di lokasi pesta. Meriah benar.
Layaknya pesta, semua tetamu yang datang mengaturkan ucapan selamat kepada kedua pengantin, ke atas panggung. Ada yang menangkupkan kedua tangan di dada, ada yang sekadar bersalaman. Ada juga yang melakukan cium pipi kanan dan cium pipi kiri (cipika-cipiki) dengan pengantin.
Seekor kucing tanpa didampingi pasangannya juga mengucapkan selamat. Di saat bercipika-cipiki, kucing kelihatan membisikkan sesuatu. Harimau jantan yang sedang jadi pengantin terlihat kaget. Mukanya tiba-tiba pucat. Lalu pingsan.
Tetamu yang hadir dan tuan rumah heboh. Pesta jadi sedikit krodit. Pertolongan pertama diberikan. Semua minyak gosok dikeluarkan. Diciumkan ke hidung Harimau yang sedang pingsan. Air putih juga diminumkan. Akhirnya, pengantin jantan itu siuman juga.
Orang-orang yang ada di lokasi bertanya-tanya: apa sebenarnya yang dibisikkan Kucing yang sampai membuat Harimau jadi pingsan.
Untuk jadi pembelajaran di masa depan, seorang tetua hutan berinisiatif bertanya kepada sang Harimau menggunakan pelantang suara.
Harimau memberikan penjelasan singkat. “Tadi saat becipika-cipiki, Kucing membisikkan kalimat singkat yang sangat menakutkan”, jelas Harimau.
Kata Harimau, Kucing berbisik, “dulu sebelum menikah saya juga seekor harimau seperti anda”.
Tamu dan tuan rumah terkejut dengan penjelasan itu. Mereka saling berpandangan. Harimau-harimau yang sudah menikah, memeriksa diri mereka masing-masing dengan seksama. Mereka ingin memastikan apakah sekarang mereka masih tetap seekor harimau atau sudah berubah jadi kucing.
Pesan moral cerita ini bukan sekadar tentang lelaki hebat yang berubah jadi penakut setelah beristri, atau suami takut isteri. Cerita ini juga berlaku dalam banyak bidang kehidupan, termasuk dalam konteks politik.
Mahasiswa-mahasiswa yang sekarang kelihatan garang seperti Tiyo Ardianto mestinya tetap jadi harimau meskipun kelak sudah jabatan. Budiman juga harus tetap jadi Budiman meski sudah berada dalam lingkar kekuasaan.
Seruan lantang “Hey antek-antek asing! Berhenti mengintervensi kedaulatan kita” tetaplah harus dilantangkan meskipun kekuasaan sudah dalam genggaman. (*)

