Site icon rakyatsumbar.id

Hadapi Tekanan Bisnis Perhotelan, Daima Group Bertahan dengan Strategi Baru

General Manager Daima Group sekaligus Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Sumatera Barat, Yos Firmansyah (kiri).

Padang, Rakyat Sumbar — Industri perhotelan di Sumatera Barat menghadapi tantangan besar di tengah melemahnya daya beli masyarakat, meningkatnya biaya operasional, serta persaingan bisnis yang semakin ketat. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha perhotelan harus melakukan berbagai strategi agar tetap bertahan.

Salah satunya dilakukan Daima Group. Perusahaan yang bergerak di sektor perhotelan ini memilih memperkuat jaringan kerja sama dengan travel agent dan event organizer (EO) sebagai salah satu langkah menghadapi perubahan pasar.

General Manager Daima Group sekaligus Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Sumatera Barat, Yos Firmansyah, mengungkapkan kondisi bisnis perhotelan saat ini dalam wawancara eksklusif bersama Firman Wanipin dari Harian Umum Rakyat Sumbar, Kamis (4/9/2026).

Menurut Yos, secara umum industri perhotelan memang belum kembali pada kondisi terbaik seperti beberapa tahun sebelumnya. Namun, Sumatera Barat masih memiliki keunggulan karena ditopang sektor pariwisata dan keberadaan berbagai destinasi unggulan.

“Sumatera Barat itu bisnis tetap ada, destinasi wisata juga bagus. Itu menjadi poin lebihnya. Bisnis masih berjalan meskipun memang mengalami penurunan,” ujar Yos.

Berbeda dengan beberapa wilayah lain, terutama Jakarta, menurutnya pasar hotel di daerah tersebut lebih banyak bergantung pada aktivitas bisnis dan perjalanan kerja.

“Jakarta lebih dominan bisnis, bukan daerah wisata. Ketika aktivitas bisnis melemah, dampaknya juga terasa terhadap tingkat hunian hotel. Tetapi kami tetap berupaya untuk survive,” katanya.

Mengubah Strategi Pasar

Salah satu tantangan terbesar yang dirasakan industri hotel saat ini adalah berkurangnya kegiatan rapat dan acara dari instansi pemerintah.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, Daima Group mulai memperluas pasar dengan meningkatkan kerja sama bersama agen perjalanan wisata dan penyelenggara kegiatan.

“Kita harus mencari peluang-peluang lain, terutama dari travel agent untuk menggantikan kegiatan meeting dari pemerintahan yang saat ini sangat berkurang,” jelas Yos.

Menurutnya, perkembangan konektivitas penerbangan internasional, termasuk adanya penerbangan langsung Padang–Kuala Lumpur, menjadi peluang positif bagi pertumbuhan sektor pariwisata Sumatera Barat.

“Itu menjadi salah satu dampak positif bagi pariwisata Sumatera Barat karena membuka peluang kedatangan wisatawan lebih banyak,” tambahnya.

*2026 Lebih Baik, Namun Tekanan Biaya Masih Tinggi*

Yos menyebutkan, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, kondisi bisnis perhotelan tahun 2026 menunjukkan sedikit perbaikan. Namun, peningkatan biaya operasional masih menjadi tantangan utama.

Harga kebutuhan operasional hotel mengalami kenaikan, sementara pelaku usaha tidak bisa serta-merta menaikkan harga kamar karena harus mempertimbangkan persaingan pasar.

“Biaya kebutuhan sekarang tinggi, tetapi kita tidak bisa menjual kamar dengan harga tinggi karena persaingan juga ketat,” ungkapnya.

Ia berharap tren positif tersebut terus berlanjut hingga akhir tahun dengan dukungan seluruh pihak yang berkaitan dengan sektor pariwisata.

*Soroti Kenyamanan Wisatawan dan Pungutan Tidak Resmi*

Sebagai Ketua IHGMA Sumatera Barat, Yos Firmansyah juga menyoroti pentingnya pembenahan tata kelola destinasi wisata. Menurutnya, kemajuan pariwisata tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau pelaku usaha, tetapi membutuhkan kerja sama semua pihak.

“Pariwisata ini tidak bisa hanya satu atau dua pihak yang berperan. Semua pihak memiliki tanggung jawab,” tegasnya.

Ia meminta pemerintah dan pemangku kepentingan melakukan pengawasan lebih serius terhadap berbagai persoalan di lapangan, termasuk adanya keluhan wisatawan terkait pungutan tidak resmi di sejumlah lokasi wisata.

“Pemerintah perlu melakukan pengawasan terhadap kegiatan usaha di Sumatera Barat agar wisatawan yang datang merasa nyaman dan tidak terbebani dengan pungutan-pungutan yang tidak perlu,” ujarnya.

Menurutnya, kenyamanan wisatawan menjadi faktor penting dalam menjaga citra pariwisata Sumatera Barat. Sebab, pengalaman buruk wisatawan dapat berdampak terhadap kepercayaan dan minat kunjungan berikutnya.

Sinergi Jadi Kunci Pemulihan Pariwisata

Yos berharap seluruh pihak dapat memperkuat kolaborasi untuk menghadapi berbagai tantangan yang masih terjadi di sektor pariwisata dan perhotelan.

“Semoga segala masalah dan kekurangan yang terjadi saat ini bisa kita hadapi dengan baik, dengan tetap berusaha memberikan yang terbaik,” tutupnya.

Dengan strategi adaptasi pasar, penguatan jaringan bisnis, serta pembenahan ekosistem wisata, industri perhotelan Sumatera Barat diharapkan mampu kembali tumbuh dan semakin kompetitif di tengah persaingan yang semakin dinamis. (*)

Exit mobile version