Padangpariaman, rakyatsumbar.id–Profesi guru adalah profesi yang mulia, begitu pula figur seorang guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru, mestinya harus memiliki karakter yang kuat dan baik, sehingga bisa menjadi figur teladan bagi para anak didiknya.
“Penanaman nilai karakter kepada para siswa jelas sangat penting sekali, namun guru juga harus lebih dahulu mencontohkan nilai karakter itu kepada anak didiknya,” demikian ditegaskan Kepala SMAN 2 VII Koto, Ratna Wilis,M.Pd saat ditemui Selasa (08/09/2026).
Ditegaskan, sebagai kepala sekolah yang dipercaya memimpin SMAN 2 VII Koto, pihaknya saat ini masih terus mengkaji dan mempelajari berbagai keunggulan yang dimiliki para siswa yang ada di SMAN 2 VII Koto yang saat ini dipimpinnya. Hal itu terutama dimaksudkan dalam rangka mengoptimalkan 8 Standar Pendidikan yang ada.
“Makanya untuk saat ini kita memulai dengan mengarah pada Sekolah Ramah Anak, dimana nantinya nilai karakter sebagai pondasi utamanya,” imbuhnya lagi.
Menurutnya, dalam menanamkan nilai karakter tentunya tidak hanya dimulai dari para guru atau tenaga pendidik saja, namun juga kepala sekolah sebagai penanggung jawab managemen di sekolah juga dituntut menjadi contoh dalam penanaman nilai karakter.
Makanya, terkait hal itu, sebagai kepala sekolah pihaknya juga telah berupaya mencontohkan pentingnya nilai karakter melalui sikap disiplin maupun nilai kejujuran lainnya.
Untuk itu, sebagai kepala sekolah pihaknya misalnya berupaya mencontohkan agar bisa hadir lebih cepat, sebelum jam pelajaran dimulai, atau sebelum jam 7.30 WIB.
Selain itu, pihaknya juga terus mengembangkan berbagai potensi maupun bakat dan talenta yang dimiliki oleh para siswa di sekolah ini, khususnya dalam bidang seni
serta kemampuan literasi melalui pembekalan dan pelatihan menulis lainnya.
“Bahkan guru-guru juga ikut pula terlibat aktif dalam menulis, dimana para guru memiliki link sendiri untuk menuangkan ide dan hasil karyanya. Demikian pula siswa juga memiliki podcase sendiri sebagai sarana menuangkan kreatifitas untuk menyalurkan ide dan aspirasi mereka,” imbuhnya lagi.
Di pihak lain, terkait animo dan kepercayaan masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke SMAN 2 VII Koto Sariak, Ratna Wilis mengakui jika hal itu memang masih menjadi tantangan sendiri bagi pihaknya di sekolah.
Hal itu tidak terlepas karena lokasi SMAN 2 VII Koto tidak begitu jauh dari Kota Pariaman, hingga tidak heran bila akhirnya banyak anak yang memilih bersekolah di Kota Pariaman.
Hal itu menurutnya terlihat saat penerimaan murid baru yang berlangsung beberapa waktu lalu, dimana jumlah murid baru yang diterima hanya berkisar 50 orang. “Jadi inilah yang menjadi tantangan tersendiri yang mesti kita jawab untuk ke depannya, bagaimana agar animo anak-anak di daerah ini lebih termotivasi untuk melanjutkan pendidikannya di sekolah ini. Bahkan kita juga telah merancang agar anak-anak putus sekolah di sekitar daerah.ini bisa dijaring agar bisa kembali melanjutkan pendidikannya di sekolah ini,” terang Ratna Wilis lagi.
Dengan program dan komitmen seperti itu nantinya diharapkan, selain bisa memutuskan mata rantai angka putus sekolah yang ada, serta bisa berdampak positif dalam meningkatkan animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke SMAN 2 VII Koto. (ris)

