Site icon rakyatsumbar.id

Diskusi Komunitas Penulis Minang: Rumus Sederhana Menulis Bahasa Minang

Kegiatan diksusi Komunitas Penulis Minang.

Kegiatan diksusi Komunitas Penulis Minang.

Padang, rakyatsumbar.id–Hajatan diskusi Komunitas Penulis Minang, benar-benar seru. Diskusi panjang membuat semua lupa waktu.

“Saatnya kita sama-sama mencoba menulisnya, kemudian nanti dibahas kembali secara bersama,” kata Noer Cakrawala yang akrab disapa Tek Nun, moderator diskusi.

Diskusi malam tersebut mengerucut kepada satu kesimpulan, semua peserta menulis cerita berbahasa Minang. Naskahnya dibahas bersama dengan “kawalan” Firdaus Abie dan Bahren.

Firdaus Abie dan Bahren didaulat menjadi pemantik diskusi, malam tersebut. Firdaus Abie merupakan penulis yang aktif menulis dalam bahasa Indonesia. Karya terbarunya, kumpulan Cerpen berbahasa Minang, berjudul Mangaji Indak Khatam. Bukunya baru saja dibedah dalam Festival Literasi 2026, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang.

Bahren, sehari-hari dosen di Sastra Minangkabau, Unand. Beliau Pakar Linguistik. Sering melakukan penelitiaan tentang bahasa Minang, khususnya mengaji asal usul kata.

Berawal dari Firdaus Abie yang memantik diskusi. Katanya, Ia masih sering ditanya banyak orang, bahasa Minang yang digunakan untuk tulisan, bahasa Minang yang mana? Bahasa Minang sangat banyak ragamnya. Memiliki tujuh dialek dengan ratusan isolek.

“Gunakan saja apa yang dipakai sehari-hari, ragam bahasa itu akan menjadi kekuatan dan kekayaan bagi bahasa Minang,” katanya.

Kalau mau fokus dan orang mudah memahami, katanya mengingatkan, gunakan bahasa Minang dari tujuh dialek. Tujuh dialek tersebut setidaknya dipahami banyak orang di wilayah tertentu. Bahasa Minang yang digunakan orang di Koto Baru dan Salayo Solok, atau wilayah sekitarnya, diyakini dipahami orang di seluruh Solok, baik di kota, kabupaten mau pun di Solok Selatan.

Begitu pun dengan bahasa dari dialek lain. Diyakini dipahami dan dimengerti orang yang memiliki isolek yang “berinduk” ke dialek tersebut.

“Bahasa Minang umum di Solok, umumnya memiliki artikel “nah” dalam setiap kalimat. Kalimatnya dipahami daerah lain di kawasan tersebut, walau ada isolek daerah lainnya yang menyertai partikel “ri” dalam setiap kalimatnya,” kata Firdaus Abie sembari menyebutkan, Lubuk Sikaping menggunakan partikel “tek roh”, Pariaman “nyeh” dan sebagainya.

Bahasa yang biasa digunakan orang di Padang, umumnya dipahami oleh orang diseluruh daerah di Sumbar, termasuk di seluruh daerah dalam wilayah adat dan budaya Minang.

“Jangan sampai terhenti menulis hanya karena tak tahu bahasa mana yang ditulis,” kata Firdaus Abie.

Firdaus Abie juga memberikan rumus sederhana dalam menulis bahasa Minang.

Bahren menyigi dari kaidah kata. Perihal mengindonesiakan bahasa Minang, termasuk perhatian baginya. Ada bahasa Minang yang di-Indonesia-kan, justru mengaburkan bahasa Minang yang aslinya. Makna juga berubah.

Tetapi, kata Bahren, ada juga kata dan istilah yang dipandang semakin merusak oleh banyak orang, akan tetapi kata tersebut justru kata sebenarnya.

“Ikua Kota belakangan ditulis Ikur Koto. Ada yang menyalahkan karena perubahan Ikua menjadi Ikur. Sesungguhnya, Ikur merupakan kata asal atau kata asli dari Ikua. Bukan mengindonesiakan Ikua menjadi Ikur,” kata Bahren.

Kata lain, Parak Karambia menjadi Parak Kerambil, menjadi perdebatan Karambia menjadi Kerambil dan dianggap mengindonesiakan Karambia menjadi Kerambil.

“Kerambil merupakan kata asli atau kata awal dari Karambia,” kata Bahren sembari menyebutkan, dalam Linguistik disebut dengan Proto atau bahasa asal.

Pembahasan semakin karena dua pemantik diskusi menyuguhkan materi yang mampu memancing keingintahuan peserta, termasuk ketika pertanyaan atau bahasa peserta dibentangkan untuk disikapi seluruh yang hadir.

“Sebuah malam yang penuh makna dan memberitakan tambahan ilmu bagi kita semua,” kata Noer Cakrawala, ketika mengakhiri pertemuan. (*)

Exit mobile version