Serang, Rakyat Sumbar — Di antara deretan wartawan senior yang menghadiri puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Serang, satu nama disebut dengan penuh hormat: H. Denni Risman.
Pada Senin (9/2/2026), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menganugerahkan Press Card Number One (PCNO)—kartu pers nomor satu—kepada Denni Risman. Sebuah penghargaan tertinggi yang hanya diberikan kepada wartawan dengan pengabdian panjang, integritas teruji, dan konsistensi menjaga marwah kemerdekaan pers.
PCNO bukan sekadar kartu identitas. Ia adalah simbol legitimasi moral organisasi wartawan terhadap dedikasi seorang jurnalis yang telah mengabdikan hidupnya bagi kepentingan publik. Penghargaan ini hanya dianugerahkan kepada wartawan berusia di atas 50 tahun, dengan masa bakti minimal 30 tahun, serta rekam jejak profesional yang tak tercela.
Bagi Denni Risman, PCNO menandai jalan panjang yang dimulai sejak akhir 1980-an—masa ketika jurnalistik masih bertumpu pada mesin ketik, kamera analog, dan liputan lapangan yang menuntut keberanian fisik sekaligus keteguhan nurani.
Lahir di Padang, 18 Mei 1963, Denni menapaki dunia pers sejak usia muda. Ia mengasah kepekaan jurnalistik melalui berbagai pelatihan, mulai dari isu lingkungan, investigasi kehutanan, hingga jurnalistik lanjutan bersama WALHI, jauh sebelum istilah media convergence dikenal luas. Pendidikan formal Sarjana Komunikasi kian mematangkan cara pandangnya dalam membaca realitas sosial dan menyampaikannya ke ruang publik.
Kamera dan mikrofon menjadi sahabat setianya. Dari wartawan foto Harian Singgalang, kamerawan RCTI Padang, hingga koresponden SCTV Sumatera Barat selama lebih dari satu dekade, Denni tak sekadar melaporkan peristiwa—ia hadir di jantung kejadian.
Salah satu liputan paling membekas adalah pemulangan TKI ilegal di Malaysia pada 2005. Demi menghadirkan suara mereka yang terpinggirkan, Denni harus berjalan menembus hutan pada malam hari, menghindari razia. Risiko diambil demi memastikan fakta sampai ke publik.
Naluri keberpihakan pada kepentingan publik juga terlihat saat ia meliput persoalan jamaah haji di Mekkah pada 2007. Tanpa penugasan resmi, Denni mengangkat krisis air di pemondokan jamaah hingga mendorong Menteri Agama RI turun tangan. Bagi Denni, berita bukan soal penugasan redaksi semata, melainkan panggilan nurani.
Seiring waktu, Denni bergerak dari lapangan ke ruang redaksi. Ia memimpin dan membesarkan berbagai media, dari televisi komunitas hingga portal berita nasional dan daerah. Kini, ia menjabat Pemimpin Redaksi Warta90.com di Batam, tetap aktif mengawal praktik jurnalistik profesional di tengah derasnya arus media digital.
Di tubuh PWI, Denni bukan sosok asing. Ia pernah mengemban berbagai amanah strategis, dari daerah hingga pusat, termasuk Wakil Ketua Bidang Media Siber PWI Pusat, dan kini anggota Komisi SIWO PWI Pusat. Ia dikenal tegas menjaga etika, namun tetap adaptif terhadap perubahan zaman.
Dalam tradisi PWI, Press Card Number One dipandang sebagai mahkota pengabdian wartawan. Ia bukan penghargaan seremonial, melainkan pengakuan bahwa pemiliknya telah menempuh maraton panjang profesionalisme—bukan lari cepat sesaat. PCNO menjadi teladan bagi generasi muda: bahwa integritas adalah kerja seumur hidup.
Anugerah PCNO 2026 yang diterima Denni Risman bukan hanya penghormatan atas masa lalu, tetapi juga pengakuan bahwa suara, sikap, dan integritasnya tetap relevan bagi masa depan pers Indonesia.
Di tengah dunia media yang terus berubah, Denni Risman membuktikan satu hal: wartawan sejati tak pernah pensiun dari keberpihakan pada kebenaran.(*)

