Site icon rakyatsumbar.id

Dari Santan Kaliki, Randang hingga Teh Talua

Kepala BPS Sumbar Nurul Hasanudin, menyukai kuliner Santan Kaliki, Randang dan Teh Talua.

Di sini ada Santan Kaliki [Pepaya], dicampur dengan cincau, itu yang saya suka,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumbar Nurul Hasanudin, memulai cerita pagi itu, Jumat, (13/3).

Laporan: Handi Yanuar, Padang.

Santan Kaliki merupakan salah satu kuliner tradisional di Ranah Minang. Kuliner ini berbahan utama santan yang di campur kaliki atau pepaya.

Rasanya akan lebih nikmat jika disajikan apabila dicampur es batu serta ditambah cincau maupun yang lainnya.

“Biasanya santan gurih. Tapi di sini nyentrik sekali rasanya. Santan yang di olah dengan rasa manis,ada pepayanya dan cincau. Ada segarnya,” ucap Nurul.

Nurul menyukai kuliner Santan Kaliki lantaran sangat alami dan higienis, serta tanpa ada bahan pengawet. Itu menjadi salah satu  pabukoan pilihannya.

“Nutrisinya sehat, buah-buahan sangat bagus. Awalnya dicoba setelah itu enak cocok ini,” ungkap Nurul.

Selain Santan Kaliki, Nurul juga menyukai minuman tradisional lainnya seperti Teh Talua (Telur).

Rasa Teh Talua yang khas membuatnya selalu mencobanya apabila ada kegiatan Safari Ramadan bersama Forkopimda.

“Minumannya saya suka Teh Talua. Teman-teman mengenalkan saya Teh Talua,” sebut Nurul.

Soal makanan, Nurul memilih Randang sebagai menu favorit. Menikmati Randang secara langsung di daerah aslinya membuatnya bersemangat.

Ada sesuatu yang berbeda, karena rempah rempahnya lebih terasa, dan rasanya pun lebih tajam.

“Dari sekian banyak makanan yang sudah saya coba, tetapi pada ujungnya saya tetap suka Randang,” jelasnya.

Menunaikan ibadah Ramadan tahun ini di Ranah Minang merupakan Ramadan pertama buat Nurul sebagai pegawai BPS.

Bapak 6 orang anak ini dilantik menjadi Kepala BPS Sumbar pada 20 Januari 2026, dan secara resmi bertugas 28 Januari 2026.

Sebelumnya, lelaki kelahiran Bandung, Jawa Barat ini pernah menjabat sebagai Kepala BPS Provinsi DKI Jakarta dan Kepala BPS Provinsi Sumatera Utara (Sumut).

“Ini pertama kali saya datang ke Sumbar sebagai pegawai BPS dengan jabatan sebagai kepala Bertugas secara resmi 28 Januari langsung ke lokasi bencana di Agam, Tanahdatar, memantau pelaksanaan pendataan menggandeng mahasiswa STIS Jakarta,” ucap Nurul.

Selama di Ranah Minang, ia beberapa kali mengikuti Safari Ramadan bersama pejabat Forkopimda (Forum Koordinasi Pimpinan Daerah).

Lokasi yang pernah ia datangi ketika Safari Ramadan adalah Payakumbuh Tanahdatar, dan Kabupaten Solok.

“Saya baru menemukan ini [Safari Ramadan] di Sumbar. Saya rasa ini keren, dan saya tidak menemukannya di Jakarta maupun di Sumut. Ini menambahkan kekompakan,” bebernya.

Buat Nurul, Ranah Minang Sumbar merupakan daerah yang cukup kental dengn nilai religinya.

Banyak masjid masjid yang menyelenggarakan salat Tarawih sehingga memudahnkanya untuk beribadah.

Namun, pada Idulfitri ini, ia tidak bisa berlebaran di Sumbar, karena harus mudik dan berkumpul dengan keluarga.

“Lebaran dengan keluarga di Bekasi, kalau lebaran itu harus dekat keluarga sulit saya berpisah,” pungkas Nurul, Alumni Magister Statistika Universitas Padjadjaran, Bandung, tahun 2012. (*)

Exit mobile version