Padang, rakyatsumbar.id —Semakin sempitnya lahan pertanian perkotaan dan meningkatnya kebutuhan pangan masyarakat, Universitas Negeri Padang (UNP) memilih tidak sekadar berbicara tentang solusi. Kampus ini turun langsung ke lapangan, membawa inovasi yang lahir dari laboratorium menuju kebun-kebun hidroponik masyarakat.
Apalagi, di tengah tantangan perubahan iklim, urbanisasi dan meningkatnya kebutuhan pangan nasional, UNP memberikan bukti bahwa kampus tidak hanya berperan sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga motor penggerak perubahan sosial.
Dari sebuah kebun hidroponik di sudut Kota Padang, benih-benih pertanian masa depan mulai ditanam. Bukan lagi sekadar mengandalkan insting dan pengalaman, melainkan berpijak pada data, teknologi, dan kolaborasi. Dan dari sana, harapan tentang kedaulatan pangan perkotaan perlahan mulai tumbuh.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk Pengembangan Budidaya Hidroponik Berbasis Automatisasi Nutrisi dengan Sensor pH dan TDS, tim UNP yang dipimpin Prof. Dr. Yulkifli, S.Pd., M.Si mendiseminasikan teknologi sensor berbasis Internet of Things (IoT) kepada praktisi hidroponik, penyuluh pertanian, serta perwakilan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Padang di Alfi Hidroponik.
Kegiatan ini sendiri berlangsung pada Jumat (20/06/2026) yang lalu.
Kegiatan yang menjadi bagian dari Program Equity–THE Impact Rankings 2025/2026 tersebut menghadirkan harapan baru bagi pengembangan pertanian perkotaan yang lebih modern, efisien dan berkelanjutan.
Menurut Prof. Yulkifli, tantangan terbesar pertanian perkotaan saat ini bukan hanya keterbatasan lahan, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas nutrisi tanaman secara konsisten agar produktivitas tetap tinggi.
“Banyak petani hidroponik masih melakukan pengelolaan nutrisi secara manual. Akibatnya, kadar pH dan TDS sering berubah-ubah sehingga pertumbuhan tanaman tidak optimal. Melalui teknologi sensor yang kami kembangkan, proses itu dapat dipantau dan dikendalikan secara otomatis dan real time,” ujar Prof. Yulkifli yang juga Dekan FMIPA UNP saat di temui di sela – sela kesibukannya di UNP, Selasa (23/06/2026).
Ia menjelaskan, sistem yang dikembangkan timnya mengintegrasikan sensor pH dan TDS dengan mikrokontroler ESP32 berbasis IoT. Teknologi tersebut memungkinkan petani mengetahui kondisi nutrisi tanaman secara langsung melalui data yang akurat dan berkelanjutan.
Hasil pengujian menunjukkan performa yang sangat baik. Sensor pH memiliki tingkat deviasi rata-rata hanya 2,8 persen, sementara sensor TDS sekitar 3,1 persen. Angka tersebut berada jauh di bawah batas toleransi lima persen yang umumnya digunakan dalam sistem monitoring pertanian presisi.
“Teknologi ini membuat keputusan pengelolaan nutrisi tidak lagi berdasarkan perkiraan, tetapi berdasarkan data. Dengan begitu penggunaan pupuk menjadi lebih efisien, biaya produksi menurun, dan hasil panen lebih stabil,” katanya.
Membangun Kedaulatan Pangan
Dihadapan peserta FGD, Prof. Yulkifli menegaskan bahwa inovasi ini bukan sekadar alat elektronik, melainkan bagian dari upaya membangun kedaulatan pangan perkotaan di masa depan.
“Kita tidak bisa terus bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah. Kota harus mulai mampu memproduksi sebagian kebutuhan pangannya sendiri. Hidroponik berbasis IoT menjadi salah satu jawaban yang realistis untuk mewujudkan hal tersebut,” tegasnya.
Kegiatan diseminasi berlangsung interaktif. Para peserta tidak hanya mendapatkan materi teoritis, tetapi juga menyaksikan langsung demonstrasi penggunaan perangkat sensor yang telah dikembangkan tim UNP.
Direktur Kerjasama, Riset dan Internasional UNP, Prof. Dr. Eng. Rusnardi Rahmat Putra, ST., MT dalam kesempatan tersebut menegaskan komitmen UNP untuk terus menghadirkan inovasi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Sementara itu, praktisi hidroponik Alfi Yusri, S.Kom., memaparkan peluang bisnis hidroponik di tengah keterbatasan lahan perkotaan. Dr. Resti Fevria, S.TP., M.P. menjelaskan strategi penyusunan nutrisi tanaman berbasis data sensor, sedangkan Roni Jarlis, S.Si., M.Pd. mengulas aspek kelayakan usaha dan pengembangan kemitraan bisnis hidroponik.
Dari diskusi yang berlangsung, muncul sejumlah rekomendasi penting, mulai dari perlunya standarisasi sistem monitoring nutrisi berbasis IoT yang terjangkau, peningkatan literasi data bagi petani, hingga penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pelaku usaha.
Bagi Prof. Yulkifli, keberhasilan transformasi pertanian perkotaan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi.
“Teknologi hanyalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat mampu memahami, memanfaatkan, dan mengembangkannya secara mandiri. Karena itu kami tidak berhenti pada diseminasi, tetapi juga menyiapkan pendampingan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menilai, pengembangan hidroponik presisi juga menjadi kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 tentang Zero Hunger, SDG 9 tentang inovasi dan infrastruktur, serta SDG 11 mengenai kota dan komunitas berkelanjutan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa riset kampus tidak boleh berhenti di jurnal atau laboratorium. Inovasi harus hadir di tengah masyarakat dan memberi manfaat langsung. Ketika teknologi mampu meningkatkan produksi pangan dan kesejahteraan masyarakat, di situlah hakikat pengabdian perguruan tinggi sesungguhnya,” tutup Prof. Yulkifli. (edg)

