Padang, Rakyat Sumbar – Di Dapur Bintang, Jalan Joni Anwar, Lapai, olahraga tidak dibicarakan sebagai angka dan podium. Ia hadir sebagai percakapan yang bernapas—tentang tubuh, nilai, dan kebudayaan yang tak pernah benar-benar terpisah. Di meja sederhana, dua sosok dengan latar berbeda duduk saling menyimak: Ketua KONI Sumatera Barat Hamdanus, raja penyair Seniman, dan wartawan Pinto Janir. Dari sanalah gelanggang kata dibuka.
Hamdanus memulai dengan ketenangan seorang pengelola amanah. Baginya, olahraga Sumatera Barat bukan sekadar proyek prestasi, melainkan perjalanan karakter. “Di Minangkabau,” ujarnya, “gerak selalu berpaut dengan adab. Seperti silek, menang bukan hanya soal kuat, tapi tahu diri.” Kalimat itu mengendap, memberi arah pada diskusi yang mengalir pelan namun tajam.
Seniman ini menimpali dengan bahasa yang melayang namun mengakar. Ia membaca olahraga sebagai puisi yang bergerak—ritme napas yang menyatu dengan nilai.
“Lapangan adalah halaman kitab,” katanya, “tempat anak muda belajar disiplin, hormat, dan keberanian. Jika nilai ditinggalkan, gerak akan kehilangan makna.”
Kata-kata itu membuat olahraga terasa dekat dengan sastra, dan sastra menemukan tubuhnya.
Pinto Janir hadir sebagai penyeimbang realitas. Catatannya rapih, pertanyaannya jujur. Ia mengangkat jarak antara gagasan dan kebijakan, antara cita-cita budaya dan keterbatasan anggaran.
Hamdanus tidak menepis. Ia mengakui tantangan, namun menegaskan jalan keluar: kolaborasi dan konsistensi. “Budaya adalah energi paling murah sekaligus paling kuat,” katanya. “Jika kita rawat, prestasi akan menyusul.”
Percakapan kian hidup ketika arah dibawa ke Porprov Sumbar 2026 yang dijadwalkan Juni mendatang. Di titik itu, nada Hamdanus menguat—optimistis, tetapi terukur. Ia menatap Porprov bukan sekadar agenda, melainkan momentum menyatukan pembinaan, sportivitas, dan identitas daerah.
“Kita ingin Porprov yang berkelas, tertib, dan bermartabat,” ucapnya. “Bukan hanya melahirkan juara, tapi juga teladan.”
Malam menua. Di luar, Lapai tetap riuh oleh lalu lintas. Di dalam, gagasan-gagasan tumbuh seperti api kecil yang hangat. Tak ada kesimpulan final—dan memang tak perlu. Yang tersisa adalah keyakinan bersama: olahraga Sumatera Barat akan berlari lebih jauh bila ia berangkat dari nilai-nilai yang dikenal dan dirawat.
Di Dapur Bintang, olahraga kembali menjadi cerita manusia. Tentang kerja bersama, tentang optimisme menatap Juni 2026, dan tentang bagaimana sebuah daerah menjaga jati diri sambil berlari menyongsong masa depan.(ope)

