Site icon rakyatsumbar.id

Berdayakan Masyarakat Pesisir, UNP Dorong Olahan Nipah Tembus Pasar

Tim Program Pengabdian UNP Berdampak 2026 saat berada di Kantor Wali Nagari Katapiang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padangpariaman. Tim mendampingi warga mengolah buah nipah menjadi selai, nugget dan bakso yang dikemas agar lebih siap dipasarkan

Tim Program Pengabdian UNP Berdampak 2026 saat berada di Kantor Wali Nagari Katapiang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padangpariaman. Tim mendampingi warga mengolah buah nipah menjadi selai, nugget dan bakso yang dikemas agar lebih siap dipasarkan

Padangpariaman, rakyatsumbar.id — Potensi buah nipah yang tumbuh di kawasan pesisir Nagari Katapiang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, mulai dikembangkan menjadi produk pangan bernilai ekonomi.

Melalui Program Pengabdian UNP Berdampak 2026, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Padang (UNP) mendampingi warga mengolah buah nipah menjadi selai, nugget, dan bakso yang dikemas agar lebih siap dipasarkan

Kegiatan tersebut dipimpin Dra. Iryani, M.S., bersama Dr. Friyatmi, S.Pd., M.Pd., Yolanda Intan Sari, M.Pd., dan Ifan Rivaldo, M.Pd. Tim dari Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNP itu juga melibatkan mahasiswa, Pemerintah Nagari Katapiang serta kelompok masyarakat mitra.

Menurut Dra. Iryani, M.S., program ini tidak sekadar memperkenalkan teknik pengolahan pangan, tetapi juga mendorong masyarakat memanfaatkan potensi lokal sebagai peluang usaha produktif.

“Pendampingan mencakup pengolahan bahan, pengelolaan biaya produksi, penentuan harga jual, pengembangan merek, desain kemasan, hingga strategi pemasaran,” paparnya, Kamis (15/10/2026).

Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi menjadi tiga kelompok yang masing-masing mengembangkan produk nugget, bakso, dan selai berbahan dasar buah nipah. Setiap kelompok turut merancang identitas merek dan desain kemasan sesuai karakter produk yang dihasilkan.

Desain yang telah disusun kemudian dicetak dan digunakan untuk mengemas produk. Melalui proses tersebut, masyarakat memperoleh pengalaman langsung dalam mengembangkan olahan nipah, mulai dari pengolahan bahan hingga menghasilkan produk dengan tampilan yang lebih menarik dan layak diperkenalkan kepada konsumen.

Dra. Iryani, M.S., menambahkan, pengembangan olahan buah nipah diarahkan untuk mengoptimalkan potensi lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.

“Masyarakat tidak hanya didampingi dalam menghasilkan produk, tetapi juga dalam membangun identitas, memilih kemasan, dan menyiapkan produk agar memiliki nilai jual. Kami berharap olahan nipah dapat tumbuh menjadi produk lokal yang mendukung kegiatan ekonomi masyarakat Katapiang,” ujar Iryani saat di temui di Kampus UNP.

Dampak pendampingan mulai terlihat dari meningkatnya pemahaman dan keterampilan peserta dalam mengembangkan produk olahan nipah. Masyarakat juga mulai memahami bahwa produk yang berpeluang menembus pasar tidak cukup hanya mengandalkan cita rasa, tetapi perlu didukung perhitungan biaya yang tepat, merek yang mudah dikenali, kemasan yang sesuai, serta pemasaran yang terarah.

Untuk menjaga keberlanjutan program, tim PKM UNP menyerahkan peralatan vacuum, plastik vacuum, dan bahan pengemasan kepada Pemerintah Nagari Katapiang. Sarana tersebut akan dikelola di bawah pembinaan pemerintah nagari agar dapat dimanfaatkan kelompok mitra untuk melanjutkan produksi sekaligus meningkatkan kualitas pengemasan.

Kolaborasi antara UNP, pemerintah nagari, dan masyarakat diharapkan mampu mendorong olahan buah nipah berkembang menjadi produk lokal unggulan.

Dengan pendampingan yang berkelanjutan, potensi nipah di kawasan pesisir Katapiang tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan lokal, tetapi juga menjadi salah satu penggerak ekonomi produktif masyarakat. (edg)

Exit mobile version