Site icon rakyatsumbar.id

Batik Alam Batu Tungga, dari Nagari Paninggahan Menjaga Warisan Minangkabau dan Menggerakkan Ekonomi Perempuan

Batik Alam Batu Tungga, menggerakkan ekonomi perempuan.

Solok, Rakyat Sumbar  — Dari tangan para perempuan di Nagari Paninggahan, Kabupaten Solok, selembar kain batik tak sekadar menjadi produk kerajinan. Di balik motif dan warna alaminya, tersimpan upaya menjaga warisan budaya Minangkabau sekaligus membuka jalan bagi penguatan ekonomi masyarakat.

Semangat itu diwujudkan melalui Kelompok Usaha Batik Tulis Alam Batu Tungga, yang mulai berdiri pada November 2024. Berawal dari semangat pemberdayaan ekonomi perempuan, kelompok ini perlahan mengembangkan batik dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar.

Tanah liek, gambir, kulit mahoni, daun jambu biji, ketaping hingga tanaman lokal lainnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber pewarna alami. Penggunaan bahan tersebut menghasilkan warna khas sekaligus lebih ramah lingkungan.
Bagi Batik Alam Batu Tungga, proses membatik bukan hanya soal menghasilkan kain bernilai jual. Motif yang dibuat juga menjadi media untuk merepresentasikan filosofi adat, alam, serta kehidupan masyarakat Minangkabau yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Perjalanan kelompok ini tidak langsung mudah. Dengan bermodalkan kain mori, canting, malam dan semangat belajar, para anggota mempelajari teknik membatik secara mandiri melalui berbagai media pembelajaran digital.
Mereka juga aktif mengikuti pameran batik di Kabupaten Solok maupun tingkat Provinsi Sumatera Barat. Meski masih berada pada tahap awal, produk yang dihasilkan mulai mendapat apresiasi dan dibeli konsumen.
Momentum penting datang pada Oktober 2025. Kelompok tersebut mengikuti workshop membatik selama tiga hari yang difasilitasi Prof. Dr. Ratni Prima Lita, SE.MM. Pelatihan itu didanai melalui dana penelitian dengan Skema Riset Terapan Tahun Anggaran 2025 yang bersumber dari DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Setelah pelatihan, kelompok secara resmi membentuk usaha batik tulis alam dengan merek “Batu Tungga”. Legalitas kelompok kemudian diperkuat melalui Surat Keputusan Wali Nagari Paninggahan Nomor 16/KPTS/NPNG/2025.

Kini, Batu Tungga telah memiliki showroom berukuran 3 x 6 meter. Dalam proses produksi, kelompok memanfaatkan sejumlah bahan pewarna alami seperti mahoni, ketaping, daun jambu biji dan teger, dengan tawas dan tunjung sebagai bahan pengunci warna.
Seluruh aktivitas usaha masih dijalankan dengan modal mandiri dan semangat gotong royong para anggota.

 

Namun, perjalanan menuju usaha yang lebih besar masih menghadapi sejumlah tantangan. Sebagai usaha yang berada pada fase awal pertumbuhan, Batu Tungga masih terkendala keterbatasan peralatan produksi, efisiensi kerja, kapasitas produksi, inovasi desain, kualitas sumber daya manusia hingga jangkauan pemasaran.

Penguatan manajemen usaha dan pengelolaan keuangan juga menjadi pekerjaan penting agar kelompok tersebut mampu berkembang secara profesional.

Diperkuat Pendampingan Akademisi
Potensi Batik Alam Batu Tungga kemudian mendapat perhatian dari kalangan akademisi melalui program pengabdian kepada masyarakat.
Pendampingan dilakukan tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas yang diketuai Dr. Verinita, S.E., M.Si., bersama Prof. Dr. Ratni Prima Lita, SE.MM, Dr. Rita Rahayu, S.E., M.Si., Ak., dan Suziana, S.E., M.M., Ph.D.
Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan Ketua Departemen Manajemen Prof. Donard Games dan Sekretaris Departemen Manajemen Laura Amelia Triani.

Sejumlah mahasiswa turut dilibatkan sebagai bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman atau experiential learning, yakni M. Raffi Anugrah Pratama, Gersi Joanti dan Hekal Lutfi Razak.

Kolaborasi dosen, mahasiswa dan pelaku usaha itu diarahkan untuk memperkuat berbagai aspek usaha, mulai dari produksi, manajemen, pemasaran digital, pengembangan produk hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) tersebut didanai DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui LPPM Universitas Andalas dengan Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun Anggaran 2026.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari sinergi perguruan tinggi, pemerintah dan masyarakat dalam mendorong pengembangan UMKM berbasis kearifan lokal.

Batik, Budaya dan Masa Depan Ekonomi Nagari

Pengembangan batik pewarna alami memiliki peluang besar dalam ekonomi kreatif. Selain mengangkat identitas budaya, penggunaan bahan pewarna alami juga membantu mengurangi pencemaran lingkungan dibandingkan pewarna sintetis.

Rantai produksinya turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal, termasuk perajin dan pemasok bahan baku alami. Produk batik alam juga berpotensi memiliki nilai tambah sebagai produk eco-fashion dan etnik premium.

Dengan nilai jual yang relatif lebih tinggi dibandingkan tekstil biasa, pengembangan batik alam berpeluang meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nagari.

Pendampingan terhadap Batu Tungga pun tidak semata-mata diarahkan untuk meningkatkan omzet penjualan. Lebih jauh, program tersebut ditujukan untuk membangun fondasi usaha yang kuat agar Batu Tungga mampu menjadi UMKM batik alam yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan.

Batik Alam Batu Tungga pada akhirnya menunjukkan bahwa warisan budaya tidak harus berhenti sebagai peninggalan masa lalu.
Di tangan perempuan Nagari Paninggahan, kain batik menjadi simbol ketangguhan, kreativitas dan harapan.

Budaya Minangkabau dirawat, lingkungan dijaga, sementara peluang ekonomi masyarakat terus dibangun.
Ketika budaya, lingkungan dan kewirausahaan berjalan beriringan, selembar kain batik pun dapat menjelma menjadi jalan menuju ekonomi nagari yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (*)

Exit mobile version