Sawahlunto, rakyatsumbar.id — Rencana bantuan seragam batik arang untuk siswa SMA, SMK, dan SLB di daerah pemilihan Sumatera Barat VI telah dibatalkan. Namun, bantuan pakaian seragam sekolah senilai Rp 325 juta tetap akan direalisasikan.
Anggaran tersebut diperuntukkan bagi 1.348 setel pakaian seragam putih dan celana abu-abu bagi siswa dari keluarga kurang mampu, khususnya yang masuk desil 1 hingga 4.
Kepastian itu disampaikan Anggota DPRD Sumatera Barat, Ir. Hj. Neldaswenti, M.Si saat menjaring aspirasi masyarakat dalam kegiatan reses perorangan masa persidangan III 2026 di SMK Negeri 2 Sawahlunto, Rabu (19/08/2026).
“Program baju seragam batik arang sudah dibatalkan, namun untuk pakaian seragam masih ada,” kata Neldaswenti.
Dalam pertemuan tersebut, kebutuhan sekolah tidak hanya berkutat pada seragam. Sejumlah guru dan pengelola SMK Negeri 2 Sawahlunto menyampaikan persoalan fasilitas, peralatan praktik, hingga kekurangan tenaga pengajar.
Ketua Komite SMK Negeri 2 Sawahlunto, Azri Busni mengatakan, sekolah selama ini berupaya memenuhi berbagai kebutuhan melalui pengajuan proposal kepada sejumlah pihak, termasuk BUMN seperti PT Bukit Asam dan PT Kereta Api Indonesia serta anggota legislatif.
Menurut dia, kebutuhan pembangunan toilet dan jalan lingkungan menjadi salah satu persoalan yang perlu segera ditangani.
Guru Jurusan Desain Permodelan Informasi Bangunan (DPIB), Afrizal, mengatakan dukungan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) belum cukup untuk memenuhi kebutuhan perangkat pembelajaran, terutama perangkat lunak yang harus terus diperbarui seperti AutoCAD.
“Kami juga kekurangan guru DPIB dan beberapa jurusan lainnya. Ini kami harapkan menjadi perhatian Dinas Pendidikan Sumatera Barat,” ujar Afrizal.
Keluhan serupa disampaikan siswa dari jurusan Geologi Pertambangan dan Teknik Ketenagalistrikan. Mereka meminta sekolah dilengkapi fasilitas yang memadai agar kegiatan belajar dan praktik dapat berlangsung lebih nyaman.
Siswa jurusan listrik, Amel, misalnya, mengatakan kegiatan praktik masih terkendala keterbatasan panel dan peralatan komputer.
Neldaswenti melanjutkan, persoalan kekurangan guru menjadi masalah yang dihadapi banyak sekolah, terutama akibat tenaga pengajar yang memasuki masa pensiun.
“Pengisian guru-guru yang pensiun memang menjadi dilematis karena mayoritas sekolah mengalami hal demikian. Ini menjadi catatan khusus bagi saya untuk dibahas komisi dengan mitra Dinas Pendidikan Sumatera Barat,” katanya.
Ia mengatakan, reses tersebut menjadi ruang untuk memetakan kebutuhan sekolah di lima daerah yang berada dalam wilayah Dapil Sumbar VI, yakni Sawahlunto, Sijunjung, Dharmasraya, Tanahdatar dan Padangpanjang.
Karena keterbatasan anggaran, ia meminta setiap sekolah menyusun kebutuhan berdasarkan skala prioritas.
“Kita tentu berbagi dengan sekolah-sekolah lain yang ada di wilayah Dapil Sumbar VI. Karena itu, setiap sekolah harus membuat perencanaan berdasarkan skala prioritas,” ujarnya.
Untuk SMK Negeri 2 Sawahlunto, persoalan toilet menjadi salah satu kebutuhan yang dinilai mendesak dan perlu dimasukkan dalam perencanaan prioritas sekolah.
Selain persoalan fasilitas dan tenaga pengajar, peluang kerja bagi lulusan juga menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut.
Guru SMK Negeri 2 Sawahlunto, Sesri Indrayani, mengatakan peluang bekerja di luar negeri cukup terbuka bagi lulusan sekolah kejuruan. Namun, biaya yang harus dikeluarkan untuk mengikuti pelatihan dan proses keberangkatan dinilai masih terlalu besar, bahkan dapat mencapai Rp50 juta.
Ia berharap pelatihan keterampilan bagi calon tenaga kerja luar negeri dapat dilakukan melalui sekolah sehingga biaya yang harus ditanggung siswa bisa ditekan.
Menanggapi hal itu, Neldaswenti meminta pihak sekolah mendata seluruh siswa yang berminat bekerja di luar negeri.
“Mana yang serius, kita data. Setelah itu kita carikan jalan keluarnya bagaimana biaya sebesar itu bisa ditekan,” katanya.
Reses tersebut dihadiri Wakil Sarana dan Prasarana SMK Negeri 2 Sawahlunto, Melsinora, serta sejumlah guru dan tenaga pendidik.Rencananya hari hingga 24 Agustus 2026 Neldaswenti akan menyerap aspirasi dari berbagai sekolah di Dapil Sumbar VI seperti SMAN 3, SMKN 1, dan SMAN 2 dan SLB.
Kegiatan itu merupakan bagian dari agenda penjaringan aspirasi masyarakat Dapil Sumatera Barat VI pada masa persidangan III 2026 yang berlangsung 18-24 Agustus 2026. (iyd)

