Site icon rakyatsumbar.id

Akademisi, Orang Syarak dan Adat: Ketika Pengalaman Birokrasi Bertemu Pengalaman Kepemimpinan Adat

Oleh: Firman Wanipin
Wartawan Harian Umum Rakyat Sumbar — Founder Channel YouTube Ciloteh Wanipin

Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Begitu pula dengan adat Minangkabau.

Hari ini, LKAAM Kota Padang tidak hanya berhadapan dengan persoalan bagaimana mempertahankan adat, sako dan pusako. Lembaga adat juga berhadapan dengan generasi digital, perubahan pola keluarga, melemahnya komunikasi mamak dengan kemenakan, urbanisasi, persoalan sosial anak muda, serta semakin kompleksnya hubungan antara adat, agama, pendidikan dan pemerintahan.

Karena itu, ketika Musda IX LKAAM Kota Padang memasuki momentum menentukan kepemimpinan periode 2026–2031, menurut saya yang harus dibicarakan bukan sekadar siapa yang paling dikenal, tetapi siapa yang memiliki pengalaman yang relevan dengan tantangan tersebut dan program yang bisa diterjemahkan menjadi kerja nyata.

Di sinilah sosok Dr. H. Hendri Yazid, S.Pd.I., MM., Dt. Rajo Diguci menarik untuk diperhatikan.

Bukan semata karena ia seorang calon Ketua LKAAM Kota Padang, tetapi karena rekam jejaknya mempertemukan tiga dunia yang jarang berada dalam satu paket: akademisi, birokrat keagamaan dan pemangku adat.

Hendri Yazid bukan nama baru dalam dunia adat Kota Padang.

Jauh sebelum muncul dalam bursa Ketua LKAAM Kota Padang 2026–2031, ia pernah memimpin LKAAM Kecamatan Kuranji. Pada 2022, misalnya, LKAAM Kuranji di bawah kepemimpinannya menjalankan kegiatan Safari Ramadan sekaligus menyampaikan program yang berkaitan dengan kepentingan anak kemenakan, termasuk sidang adat bagi calon pengantin di wilayah Kuranji.

Pada 2024, namanya juga tercatat sebagai Ketua LKAAM Kuranji dalam kegiatan MTQ Kecamatan Kuranji.

Artinya, pengalaman Hendri dengan kelembagaan adat bukan baru muncul ketika dirinya mendaftarkan diri sebagai calon Ketua LKAAM Kota Padang.

Ia sudah pernah berada di dalam ruang adat.

Kemudian pengalaman itu bersambung dengan perjalanan panjangnya di lingkungan Kementerian Agama.

Saat menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Payakumbuh, Hendri tercatat mendorong sejumlah inovasi pelayanan dan pembinaan masyarakat.

Salah satunya adalah LAPEH PANIK — Layanan Pendaftaran Haji dan Pelayanan Nikah, yang ditempatkan di Mal Pelayanan Publik Kota Payakumbuh. Program tersebut diluncurkan pada Oktober 2024 untuk mendekatkan layanan keagamaan kepada masyarakat.

Ada pula GEMPITA — Gerakan Madrasah Pintar Bersama Guru Tamu, yang diluncurkan pada 2025 dengan tujuan mengurangi kesenjangan kualitas antarmadrasah melalui berbagi dan mereplikasi praktik baik.

Kantor Kemenag Payakumbuh di bawah kepemimpinan Hendri juga menjalankan pembinaan aparatur, penguatan pelayanan, kegiatan keagamaan dan berbagai agenda yang melibatkan madrasah, KUA, pesantren serta masyarakat. Salah satu publikasi resmi Kemenag Payakumbuh bahkan menggambarkan kepemimpinannya sebagai pendekatan pelayanan yang humanis, kolaboratif dan berorientasi kepada masyarakat.

Inilah yang menurut saya menarik.

Pengalaman adatnya tidak berdiri sendiri. Pengalaman birokrasi dan pendidikannya juga tidak berdiri sendiri.

Ketiganya bertemu pada satu sosok.

Dalam bahasa sederhana, saya melihat Hendri Yazid sebagai “paket lengkap”.

Ada sisi akademisinya.

Ada pengalaman birokrasi Kementerian Agama.

Ada pengalaman dalam dunia pendidikan dan keagamaan.

Dan ada pengalaman sebagai pemangku adat.

Bahkan pada Februari 2026, Hendri dikabarkan menyelesaikan pendidikan doktoral bidang Administrasi Pendidikan di Universitas Negeri Padang.

Ini bukan berarti seorang Ketua LKAAM harus bergelar doktor. Tidak.

Gelar akademik tidak otomatis menjadikan seseorang pemimpin adat.

Tetapi ketika gelar tersebut bertemu dengan pengalaman lapangan, pengalaman birokrasi, pengalaman keagamaan dan pengalaman adat, maka muncul sebuah kombinasi yang patut dibicarakan dalam konteks kebutuhan LKAAM Kota Padang hari ini.

Sebab LKAAM bukan lembaga akademik.

LKAAM juga bukan kantor pemerintahan.

Dan LKAAM bukan pula lembaga politik.

LKAAM adalah lembaga adat yang membutuhkan kemampuan membaca zaman tanpa kehilangan akar.

Di sinilah pengalaman lintas dunia menjadi penting.

Saya melihat sejumlah pola kerja Hendri di Payakumbuh memiliki relevansi untuk dipikirkan dalam pengembangan LKAAM.

LAPEH PANIK, misalnya, memperlihatkan pendekatan bahwa pelayanan dapat dibuat lebih dekat dan mudah dijangkau masyarakat.

GEMPITA memperlihatkan pendekatan berbagi praktik baik dan mengurangi kesenjangan melalui kolaborasi.

Jika prinsip semacam itu dibawa ke LKAAM, bentuknya tentu berbeda.

LKAAM tidak perlu meniru program Kemenag secara mentah.

Tetapi cara berpikirnya bisa diterapkan.

Misalnya, pelayanan dan informasi adat dapat dibuat lebih mudah diakses.

Pengetahuan adat dapat didokumentasikan.

Tokoh adat dapat dihimpun dalam sebuah basis data.

Sejarah nagari dapat didigitalisasi.

Generasi muda dapat dilibatkan.

Persoalan anak kemenakan dapat dibicarakan secara lebih terstruktur.

Dan LKAAM dapat menjadi ruang bertemunya niniak mamak, ulama, akademisi, pemerintah, bundo kanduang dan generasi muda.

Dengan kata lain, yang dibawa bukan nama programnya, tetapi pola inovasinya.

Ada satu hal yang sering terlupakan dalam melihat figur calon pemimpin.

Pengalaman bukan sekadar berapa lama seseorang berada dalam organisasi.

Yang lebih penting adalah apa yang dikerjakan selama berada di dalam organisasi tersebut.

Dalam kasus Hendri, pengalaman LKAAM Kuranji sudah ada sebelum pengalaman terakhirnya sebagai Kepala Kemenag Payakumbuh.

Karena itu, menurut saya, perjalanan tersebut dapat dibaca sebagai sebuah garis yang saling berhubungan.

Dari adat.

Masuk ke dunia pendidikan.

Masuk ke birokrasi keagamaan.

Berinteraksi dengan masyarakat.

Kemudian kembali menawarkan diri untuk mengurus kelembagaan adat di Kota Padang.

Itulah yang membuat sosoknya menarik untuk diuji oleh para niniak mamak.

Bukan diuji melalui baliho.

Bukan melalui banyaknya pendukung yang hadir.

Tetapi melalui gagasan, rekam jejak dan kemampuan menerjemahkan pengalaman menjadi program.

Menurut saya, tantangan terbesar LKAAM ke depan bukan sekadar mempertahankan simbol adat.

Adat harus hidup.

Kalau anak muda tidak lagi mengenal siapa mamaknya, bagaimana hubungan dengan suku, bagaimana memahami sako dan pusako, bagaimana menyelesaikan persoalan dengan musyawarah, maka masalahnya bukan pada ada atau tidak adanya lembaga adat.

Masalahnya adalah apakah lembaga adat masih hadir dalam kehidupan mereka.

Karena itu, LKAAM harus berani masuk ke ruang generasi muda.

Masuk ke sekolah.

Masuk ke kampus.

Masuk ke masjid dan surau.

Masuk ke media sosial.

Masuk ke ruang diskusi anak muda.

Bahkan masuk ke YouTube, TikTok dan platform digital lainnya.

Adat tidak boleh hanya menjadi materi pidato ketika acara batagak pangulu atau alek adat.

Adat harus menjadi nilai yang hidup dalam keseharian.

Hal lain yang menurut saya sangat penting adalah hubungan antara LKAAM dan KAN.

Kota Padang memiliki banyak KAN dengan dinamika masing-masing.

Kalau komunikasi antarlembaga tidak berjalan, maka energi masyarakat adat akan habis untuk persoalan internal.

Sebaliknya, jika komunikasi dibangun dengan baik, LKAAM dapat menjadi ruang koordinasi dan penguatan kelembagaan adat.

Dalam pertemuan dengan jajaran LKAAM, KAN dan tokoh adat se-Kota Padang pada 19 September 2026, Hendri juga menekankan pentingnya komunikasi serta musyawarah dan mengingatkan agar perbedaan pilihan dalam Musda tidak memutus silaturahmi.

Bagi saya, pesan tersebut penting.

Sebab setelah Musda selesai, siapa pun yang memperoleh amanah tetap harus duduk bersama.

Yang kalah bukan berarti kehilangan keluarga.

Yang menang bukan berarti mendapatkan kekuasaan mutlak.

Dalam adat Minangkabau, mufakat dan persatuan jauh lebih panjang umurnya dibandingkan sebuah kontestasi.

Saya juga ingin menyampaikan satu hal yang mungkin tidak populer.

Yang tua jangan dibuang.

Yang senior tetap diperlukan.

Mereka adalah gudang pengalaman.

Mereka mengetahui perjalanan organisasi, sejarah adat dan berbagai dinamika yang pernah terjadi.

Tetapi pengalaman tersebut akan lebih bermanfaat apabila ditempatkan sebagai penasihat, pembina dan penjaga marwah, sementara ruang kepemimpinan operasional juga dibuka kepada generasi yang memiliki energi, pengetahuan dan kemampuan menghadapi perubahan.

Ada sebuah ungkapan yang sangat sederhana:

“Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya.”

Kalimat ini bukan berarti orang lama tidak lagi berguna.

Justru sebaliknya.

Orang lama memiliki pengalaman.

Orang baru membawa energi.

Kalau keduanya disatukan, organisasi akan memiliki akar sekaligus tunas.

Karena itu, regenerasi LKAAM jangan dimaknai sebagai pergantian generasi semata, tetapi pertemuan antara pengalaman dan pembaruan.

Saya juga ingin mengingatkan para niniak mamak, khususnya yang berada di KAN dan LKAAM kecamatan di Kota Padang.

Dalam menentukan arah kepemimpinan, jangan hanya melihat siapa yang datang membawa banyak orang.

Jangan hanya melihat siapa yang paling dekat.

Jangan hanya melihat siapa yang paling banyak baliho.

Dan jangan pula memilih hanya karena hubungan emosional.

Pengalaman demokrasi nasional pada Pilpres 2024 semestinya menjadi pelajaran bahwa pilihan politik memiliki konsekuensi yang dirasakan masyarakat setelah pesta demokrasi selesai.

Maka dalam memilih pemimpin organisasi adat, yang harus dilihat adalah rekam jejak, kemampuan, gagasan, integritas, program dan kemampuan mengimplementasikan program tersebut.

Ini bukan soal siapa yang paling tua.

Bukan pula soal siapa yang paling muda.

Ini soal siapa yang memiliki kapasitas yang sesuai dengan kebutuhan zamannya.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa seorang doktor otomatis menjadi pemimpin adat yang baik.

Tidak sesederhana itu.

Saya juga tidak mengatakan bahwa pengalaman birokrasi otomatis menjamin keberhasilan memimpin LKAAM.

Yang ingin saya katakan adalah: ketika seorang figur memiliki pengalaman akademik, pengalaman birokrasi keagamaan, pengalaman organisasi dan pengalaman adat sekaligus, kombinasi tersebut patut diuji secara serius dalam forum musyawarah.

Hendri Yazid memiliki pengalaman sebagai pemimpin LKAAM Kuranji. Ia memiliki pengalaman di Kementerian Agama. Ia memiliki latar akademik. Ia berada dalam lingkungan syarak dan adat. Ia juga telah berbicara mengenai komunikasi LKAAM-KAN, regenerasi dan penguatan kelembagaan.

Bagi saya, inilah paket yang perlu dibuka dan diuji di hadapan niniak mamak.

Bukan dipaksakan.

Bukan pula dikultuskan.

Tetapi diberikan ruang untuk menjelaskan apa yang hendak dilakukan.

LKAAM JANGAN HANYA MENJADI LEMBAGA SEREMONIAL

Saya membayangkan LKAAM Kota Padang lima tahun ke depan bukan sekadar lembaga yang muncul ketika ada acara adat.

LKAAM harus mampu menjadi rumah besar adat.

Rumah bagi niniak mamak.

Rumah bagi alim ulama.

Rumah bagi cadiak pandai.

Rumah bagi bundo kanduang.

Dan rumah bagi generasi muda Minangkabau.

Di sana dibicarakan persoalan anak kemenakan.

Di sana dibahas persoalan tanah ulayat.

Di sana dibicarakan pendidikan adat.

Di sana generasi muda belajar sejarah nagari.

Di sana teknologi digunakan untuk menyelamatkan dokumentasi adat.

Dan di sana pemerintah dapat mendengar suara masyarakat adat secara kelembagaan.

Jika pola kepemimpinan seperti itu yang diinginkan, maka sosok dengan pengalaman lintas bidang seperti Hendri Yazid tentu menjadi salah satu figur yang patut diperhatikan dalam Musda IX.

Pada akhirnya, bagi saya, persoalan Ketua LKAAM bukan persoalan pribadi.

Ini persoalan masa depan adat.

Kita membutuhkan orang yang memahami adat, tetapi juga memahami zaman.

Kita membutuhkan orang yang memahami syarak, tetapi juga memahami birokrasi.

Kita membutuhkan orang yang memahami akademik, tetapi juga memahami masyarakat.

Kita membutuhkan orang yang mampu berbicara dengan niniak mamak sekaligus mampu berbicara dengan generasi muda.

Dan kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai menyusun kata, tetapi mampu mengubah kata menjadi kerja.

Hendri Yazid memiliki kombinasi pengalaman tersebut.

Apakah kombinasi itu cukup?

Jawabannya tentu harus diuji melalui Musda, melalui gagasan, melalui program dan melalui komitmen yang disampaikan kepada masyarakat adat.

Tetapi satu hal menurut saya jelas:

LKAAM Kota Padang membutuhkan regenerasi yang tidak memutus tradisi, melainkan membawa tradisi memasuki masa depan.

Dan kalau kita percaya pada ungkapan, “setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya,” maka sudah waktunya pengalaman para senior ditempatkan sebagai kekuatan pembinaan, sementara generasi yang memiliki energi dan kapasitas baru diberikan ruang untuk bekerja.

Bukan mengganti yang lama dengan menghapus jasanya.

Tetapi menjadikan pengalaman yang lama sebagai fondasi bagi masa yang baru.

Di titik inilah rekam jejak Dr. H. Hendri Yazid, S.Pd.I., MM., Dt. Rajo Diguci layak dibaca secara utuh oleh para niniak mamak, KAN dan LKAAM kecamatan se-Kota Padang.

Sebab yang sedang dicari bukan sekadar seorang ketua.

Yang sedang dicari adalah arah LKAAM Kota Padang untuk lima tahun ke depan. (fwi)

Exit mobile version